Skip to main content

LO KHENG HONG - FIRST BIG RETURN


Syahdan, ada seorang investor saham bernama Lo Kheng Hong (LKH). Ia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tahun 1989, saat berusia 30 tahun, ia mulai berinvestasi saham sembari bekerja di bank. Tujuh tahun kemudian ia berhenti bekerja dan fokus berinvestasi saham. Kini ia telah sukses, dan dijuluki Warren Buffett of Indonesia. Mari kita belajar sejurus dua jurus dari “pendekar saham” yang rendah hati ini. Ciaaaaat!

Jakarta, pertengahan Mei 1998. Gelombang kerusuhan rasial, krisis finansial dan gejolak politik menghanyutkan harga-harga saham di Bursa Efek Jakarta ke titik terendah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah turun sekitar 40% dibanding pada tahun 1997.  Kondisi suram penuh ketidakpastian ini berlanjut hingga 1999. Ketika mayoritas investor kabur dari bursa saham, menjual murah saham mereka secara panik, LKH justru sibuk mencari peluang membeli saham bagus dengan harga super diskon. Ia menganalisis laporan keuangan beberapa perusahaan yang harganya sudah jatuh habis-habisan. Diantaranya adalah saham PT. United Tractor, Tbk (UNTR) yang nantinya mengubah garis tangannya.

LKH membeli saham UNTR pada 1998 saat harganya Rp 250 per saham. Ia menjualnya 6 tahun kemudian pada harga setara dengan Rp 15.000 (saham UNTR sudah mengalami stock split dan bonus), menikmati keuntungan 5.900 persen! Atau rata-rata hampir 100 persen setahun dalam jangka waktu 6 tahun. Lo Kheng Hong menginvestasikan Rp 1,5 milyar untuk membeli 6 juta saham UNTR. Enam tahun kemudian, dia memperoleh Rp 90 milyar dari penjualan saham tersebut.
Bagaimana Lo Kheng Hong menemukan UNTR? Apakah karena sekedar faktor keberuntungan, atau hasil dari sebuah analisis fundamental yang cerdas? UNTR adalah distributor utama alat-alat berat merk Komatsu di Indonesia. Kini usahanya merambah ke pertambangan dan perkebunan. Mayoritas sahamnya dimiliki PT. Astra Internasional, Tbk (ASII). LKH tertarik dengan UNTR karena perusahaan ini memiliki penghasilan dalam dollar AS serta dikenal sebagai perusahaan yang tata kelolanya bagus.

LKH kemudian melakukan analisis fundamental terhadap UNTR menggunakan laporan keuangan UNTR Kwartal 3 tahun 1998. Penulis tidak bisa mendapatkan data ini, namun kita bisa menggunakan laporan keuangan UNTR akhir 1998 yang telah diaudit. Neraca UNTR pada akhir 1998 menunjukkan total aset Rp 3,8 trilyun dan total utang Rp 4,3 trilyun, sehingga ekuitas perusahaan adalah negatif Rp 0,5 trilyun. Artinya UNTR mengalami kekurangan (defisiensi) modal. Yang lebih mengkhawatirkan adalah Rp3,9 trilyun dari utang UNTR akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau kurang.
Padahal selama 1998, pendapatan UNTR mencapai Rp 3,68 trilyun, dan laba usahanya adalah Rp 1,07 trilyun. Jika dibandingkan tahun 1997, pendapatan dan laba usaha mengalami kenaikan yang sangat nayta (Lihat Tabel). Namun, akibat perubahan kurs dollar AS terhadap rupiah yang gila-gilaan, UNTR menderita kerugian dari selisih kurs Rp 1,7 trilyun. Ditambah beban keuangan Rp 0,4 trilyun, beban lain-lain menjadi sekitar Rp 2,08 trilyun.  Akibatnya, meskipun laba usahanya naik dibanding tahun 1997, kerugian sebelum pajak justru meroket menjadi Rp 1,1 trilyun (naik 273% dari tahun 1997). 

Harga saham UNTR pada April 1997 masih Rp 437. Setelah Krisis Moneter menghantam Indonesia, harga saham UNTR pada Juni 1998 tinggal Rp 25. LKH membeli saham UNTR pada akhir 2008, ketika harganya sudah naik menjadi Rp 250. Jumlah saham beredar UNTR saat itu adalah 138 juta. Pada harga pasar Rp 250 per saham, total nilai pasar ekuitas (kapitalisasi pasar) UNTR adalah hanya Rp 34,5 milyar! 

Bagi LKH, UNTR adalah perusahaan bagus karena secara operasional perusahaan ini masih membukukan laba yang besar sekali. Kalaupun ada kerugian bersih, ini akibat kenaikan drastis dollar AS yang terjadi tidak setiap tahun.  Jika kondisi ekonomi pulih, pasti harga saham UNTR akan meroket. Selain itu, UNTR memiliki manajemen yang professional dan etis. Meskipun jumlah utang UNTR melebihi nilai asetnya, kemungkinan besar kreditur UNTR tidak akan melikuidasi perusahaan ini karena secara operasional masih bagus. Ternyata perhitungan LKH benar. UNTR masih eksis hingga hari ini, harganya Rp 23.000.  Di April 2012, harga UNTR bahkan pernah mencapai titik tertinggi di Rp 33.000.

Krisis  finansial 1998 telah melambungkan kekayaan Lo Kheng Hong. Kuncinya, ia memiliki kompetensi untuk menganalisis fundamental perusahaan serta berani mengambil risiko/tindakan dengan membeli saham UNTR saat investor lain panik menjuali sahamnya. Selain itu, LKH memiliki kesabaran yang luar biasa untuk menyimpan saham UNTR dalam aktu lama. Ia tidak tergoda untuk segera menjualnya dan menikmati keuntungan jangka pendek. Mengapa akhairnya LKH melepas UNTR di tahun 2004? “Harganya sudah naik begitu tinggi. Saya belum pernah memegang uang sebanyak itu. Ada kekhawatiran kalau harganya turun”, kata LKH sembari tersenyum.

RINGKASAN LAPORAN LABA RUGI

Akhir 1998
Akhir 1997
Perubahan
Penghasilan Bersih
3,68 T
2,51 T
46%
Laba Usaha
1,07 T
0,35 T
205%
Beban Lain-Lain (Rugi Selisih Kurs, dll)
2,08 T
0,60 T
246%
Rugi Bersih
1,10 T
0,29 T
273%
Laba Usaha/Saham
7.803
2.558
205%
Rugi Bersih/Saham
8.036
2.160
272%

Comments

  1. Mengapa akhairnya LKH melepas UNTR di tahun 2004? Itu maksudnya 2014 kah?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

LO KHENG HONG DAN SAHAM PANIN FINANCIAL

Follow my IG: lukas_setiaatmaja  IG: hungrystock PNLF yang dahulu dikenal sebagai PT Panin Life Tbk berdiri pada tahun 1974 sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi jiwa, dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1983. PNLF juga memiliki 46 persen saham PT. Panin bank, Tbk (PNBN). Maka dengan membeli saham PNLF, investor memiliki bisnis asuransi jiwa dan bank sekaligus.  LKH membeli 850 juta saham PNLF pada Kwartal 3 tahun 2011 di harga sekitar Rp100 per saham. Laporan keuangan PNLF per akhir Juni tahun 2011 menunjukkan PNLF memiliki aset Rp 9 trilyun, total utang Rp3,1 trilyun dan total ekuitas Rp5,9 trilyun. Jumlah saham beredar adalah 24 milyar. Artinya, nilai buku per saham saat itu adalah Rp241. Padahal harga pasar saham hanya Rp100 (sekitar 41% dari nilai buku). Kinerja keuangan PNLF termasuk bagus. Penghasilan bersih PNLF di semester pertama 2011 adalah Rp1,5 trilyun, laba bersihnya Rp308 milyar dan laba per sahamnya Rp 12,8.  LKH te

LO KHENG HONG DAN SAHAM BUMI (PART 1)

Follow my IG: lukas_setiaatmaja IG: hungrystock Minggu ini kita akan belajar bagaimana LKH mebuat cuan dari berinvestasi pada saham perusahaan batubara. Dua tahun terakhir ini banyak investor/trader saham yang tahu LKH pernah memiliki saham PT. Bumi Resources, Tbk (BUMI). Maklumlah, LKH mengoleksi BUMI dalam jumlah yang cukup besar dalam jumlah cukup besar. Apalagi setelah saham BUMI turun terus sejak Maret 2013 dan sempat pingsan di harga terendah Rp50 pada periode Agustus 2015 s/d Juni 2016. Mereka sering mengaitkan LKH dengan saham BUMI yang harganya tinggal gocap (Rp50). Saya akan menulis tentang kisah ini minggu depan. Banyak yang tidak tahu bahwa LKH pernah membeli saham BUMI sebelumnya, yakni pada Januari 2009. Mari kita belajar bagaimana LKH memanfaatkan kesempatan yang dilahirkan oleh Krisis finansial global (subprime mortgage crisis) tahun 2008. Harga saham BUMI mulai naik sejak awal 2007 (Rp 900), mencapai puncaknya pada awal Juni 2008 (Rp8.750). Awal 2008 I

LO KHENG HONG MENYULAP SAHAM KERTAS

Artikel Lukas Setia Atmaja (LSA) ini pernah diterbitkan di Kolom Wake Up Call harian KONTAN. Hasil interview LSA dengan Lo Kheng Hong. IG: hungrystock IG: lukas_setiaatmaja Januari 2017, Lo Kheng Hong (LKH) membeli 31,7 juta saham PT. Indah Kiat Pulp & Paper, Tbk (INKP). Indah Kiat adalah perusahaan multinasional yang memproduksi kertas dan pulp. Didirikan pada tahun 1981, perusahaan ini menjadi perusahaan publik pada tahun 1990. Mengapa LKH tertarik membeli saham INKP yang sudah bertahun-tahun tidak naik harganya? (Lihat Grafik Harga Saham INKP). Dari tahun 2010 hingga 2016, harga saham INKP cenderung stabil di harga Rp1.000. Saham PT. Indah Kiat Pulp & Paper, Tbk (1990 – 2019) Sumber: www.reuters.com “Karena membeli saham INKP di Januari 2017, maka saya melihat laporan keuangan INKP per akhir September 2016,” Kata LKH. Ia melihat laba bersih INKP sebesar USD 97 juta. Sedangkan laba bersih di akhir Juni 2016 adalah USD